Pages

Selasa, 02 Oktober 2012

MAKALAH CTL

-->
MAKALAH CTL
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Ketika kita membicarakan tentang pendidikan, kita merasa bahwa kita sedang membicarakan permasalahan yang kompleks dan sangat luas. Mulai dari masalah peserta didik, pendidik/guru , manajemen pendidikan, kuriku-lum, fasilitas, proses belajar mengajar, dan lain sebagainya. Salah satu masalah yang banyak dihadapi dalam dunia pendidikan kita adalah lemahnya kualitas proses pembelajaran yang dilaksanakan guru di sekolah. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas hanya diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya banyak peserta didik yang ketika lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi mereka miskin aplikasi.
Dalam Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) dijelaskan bahwa Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. ( UU Sisdiknas , 2003). Sesuai fungsi pendidikan nasional tersebut terletak juga tanggung jawab guru untuk mampu mewujudkannya melalui pelaksanaan proses pembelajaran yang mampu bermutu dan berkualitas. Salah satu strategi yang dapat dipergunakan guru untuk memperbaiki mutu dan kualitas proses pembelajaran adalah dengan menerapkan strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning ( CTL ).
Perumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan strategi pembelajaran Kontekstual (CTL) ?
2. Apa perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensional ?
3. Bagaimana pola dan tahapan pembelajaran CTL di sekolah ?
4. Bagaimana aplikasi pembelajaran CTL pada mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS ) di Sekolah Dasar.
Tujuan Penulisan
Tujuan penyusunan makalah ini adalah untuk mengetahui tentang strategi Pembelajaran Kontekstual (CTL) pada pelajaran IPS
Manfaat Penulisan
Manfaat penulisan makalah ini adalah :
1. Teoritis : memberikan tambahan pengetahuan kepada pembaca tentang strategi pembelajaran kontekstual ( CTL )
2. Praktis : pembaca dapat menerapkan strategi pembelajaran kontekstual (CTL) pada mata pelajaran IPS.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Pada beberapa tahun terakhir ini pembelajaran kontekstual merupakan pendekatan pembelajaran yang banyak dibicarakan orang. Berbeda dengan strategi pembelajaran lainnya Contextual Teaching and Learning (CTL) yang selanjutnya oleh penulis dalam makalah ini disingkat CTL merupakan strategi yang melibatkan peserta didik secara penuh dalam proses pembelajaran. Peserta didik didorong untuk beraktivitas mempelajari materi pembelajaran sesuai dengan topik yang akan dipelajarinya.
Menurut Elaine B Johnson (2002) Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah :
......an educational process that aims to help students see meaning in academic material they are studying by connecting academic subjects with the context of their daily lives, that is, with context of their personal, social, and cultural circumstance. To achieve this aims, the system encompasses the following eight component: making meaningful connections, doing significant work, self-regulated learning, collaborating, critical and creative thinking, nurturing the individual, reaching high standards, using authentic assesment.
Kutipan pengertian di atas menegaskan hakikat CTL yang dapat diringkas dalam 3 (tiga) kata yaitu makna, bermakna, dan dibermaknakan. Dengan merujuk pada 4 (empat) konsep kunci yang saling terkait, yaitu teaching (refleksi sistem kepribadian sang guru yang bertindak secara profesional), learning (refleksi sistem kepribadian peserta didik yang menunjukkan perilaku yang terkait dengan tugas yang diberikan, instruction (sistem sosial tempat berlangsungnya mengajar dan belajar ), dan curriculum (sistem sosial yang berujung pada rencana untuk pengajaran ) maka dalam CTL guru berperan sebagai fasilitator tanpa henti (reinforcing), yakni membantu peserta didik menemukan makna (pengetahuan). Dalam penerapan CTL ada sejumlah strategi yang mesti ditempuh yaitu:
Pertama, pengajaran berbasis problem. Dengan memuculkan problem yang dihadapi bersama, peserta didik ditantang untuk berfikir kritis untuk memecahkannya. Problem seperti ini membawa makna personal dan sosial bagi peserta didik.
Kedua, menggunakan konteks yang beragam. Makna itu ada di mana-mana dalam konteks fisikal dan sosial. Guru membermaknakan pusparagam konteks (sekolah, masyarakat, tempat kerja, dan sebagainya), sehingga makna (pengetahuan) yang diperoleh peserta didik menjadi semakin berkualitas.
Ketiga, mempertimbangkan keberagaman peserta didik baik perbedaan individual dan sosial. Guru mengayomi peserta didik dan meyakini bahwa keberagaman dibermaknakan sebagai mesin penggerak untuk belajar saling menghormati dan membangun toleransi.
Keempat, memberdayakan peserta didik untuk belajar sendiri. Peserta didik dilatih untuk kritis dan kreatif dalam mencari dan menganalisis informasi dengan sedikit bantuan atau malah secara mandiri.
Kelima, belajar melalui kolaborasi, Peserta didik dibiasakan saling belajar dari dan dalam kelompok untuk berbagi pengetahuan dan menentukan fokus belajar.
Keenam, menggunakan penilaian autentik. Hal ini menunjukkan bahwa belajar telah berlangsung secara terpadu dan kontekstual, dan memberi kesempatan kepada siswa untuk maju terus sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Ketujuh, mengejar standar tinggi. Standar unggul sering dipersepsikan sebagai jaminan, baik jaminan lulus, jaminan kerja, jaminan kepercayaan diri, jaminan menentukan masa depan. Hal ini perlu didengungkan kepada peserta didik agar menjadi manusia yang kompetitif pada abad persaingan dewas ini (Elaine B Johnson : 2002)
Hampir serupa dengan pengertian CTL di atas. Wina Sanjaya (2006) mengemukakan bahwa Contextual Teaching and Learning adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan pada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.
Dari konsep tersebut ada 3 (tiga) hal yang harus difahami. Pertama, CTL akan menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorientasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam konteks CTL tidak mengharapkan agar peserta didik hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mencari dan menemukan sendiri materi pelajaran. Kedua, CTL mendorong agar peserta didik dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya peserta didik dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting agar materi yang dipelajari peserta didik tertanam erat dalam memori peserta didik, sehingga tidak akan mudah dilupakan. Ketiga, CTL mendorong peserta didik untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan, artinya CTL bukan hanya mengharapkan peserta didik memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehari-hari.
CTL sebagai suatu pendekatan pembelajaran memiliki 7 (tujuh) asas. Asas-asas ini yang melandasi pelaksanaan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL. Adapun 7 (tujuh) asas tersebut adalah :
1. Konstruktivisme, adalah proses membangun atau menyusun penge-tahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.
2. Inkuiri, adalah proses pembelajaran didasarkan pada pencarian dan penemuan melalui proses berfikir secara sistematis.
3. Bertanya (Questioning), adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dipandang sebagai refleksi keingintahuan setiap individu; sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir.
4. Masyarakat Belajar ( Learning Community) adalah proses kerjasama saling memberi dan menerima. Penerapannya dapat dilakukan dengan menerapkan pembelajaran melalui kelompok belajar. Dalam hal tertentu guru bisa mendatangkan orang-orang yang dianggap memiliki keahlian khusus untuk memberikan atau membahas masalah tertentu sesuai dengan materi pembelajaran.
5. Permodelan ( Modelling ), adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Misalnya guru memberikan contoh kepada siswa, atau siswa yang telah menguasai kemampuan tertentu memberikan contoh kepada temannya di depan kelas.
6. Refleksi (reflection), adalah proses pengendapan pengalaman yang telah dipelajari yang dilakukan dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya.
7. Penilaian nyata ( authentic assessment ) adalah proses yang dilakukan dengan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkembangan belajar yang dilakukan siswa. Penilaian diperlukan untuk mengetahui apakah peserta didik benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar peserta didik memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa.
B. Perbedaan CTL dengan Pembelajaran Konvensional
Terdapat beberapa perbedaan pokok antara CTL dengan pembelajaran konvensional yang berlaku selama ini. Perbedaan tersebut antara lain :
1. CTL menempatkan peserta didik sebagai subyek belajar, artinya siswa berperan aktif dalam setiap proses pembelajaran dengan cara menemukan dan menggali sendiri materi pelajaran. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional peserta didik ditempatkan sebagai obyek belajar yang berperan sebagai penerima informasi secara pasif.
2. Dalam pembelajaran CTL, peserta didik belajar melalui kegiatan kelompok seperti kerja kelompok, berdiskusi, saling menerima dan memberi. Sedangkan dalam pembelajaran konvensional peserta didik lebih banyak belajar secara individual dengan menerima, mencatat, dan menghafal materi pelajaran.
3. Dalam CTL, pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata secara riil; sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran bersifat teoritis dan abstrak.
4. Dalam CTL, kemampuan didasarkan atas pengalaman; sedangkan dalam pembelajaran konvensional kemampuan diperoleh melalui latihan-latihan.
5. Tujuan akhir proses pembelajaran melalui CTL adalah kepuasan diri; sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tujuan akhir adalah nilai atau angka.
6. Dalam CTL, tindakan atau perilaku dibangun atas kesadaran diri sendiri, misalnya individu tidak melakukan perilaku tertentu karena menyadari perilaku itu merugikan atau tidak bermanfaat; sedangkan dalam pembelajaran konvensional, tindakan atau perilaku individu di dasarkan oleh faktor dari luar dirinya, misalnya individu tidak melakukan sesuatu disebabkan takut hukuman atau sekedar memperoleh nilai dari guru.
7. Dalam CTL, pengetahuan yang dimiliki setiap individu selalu berkembang sesuai dengan pengalaman yang dialaminya, sehingga setiap peserta didik bisa terjadi perbedaan dalam memaknai hakikat pengetahuan yang dimilikinya. Dalam pembelajaran konvensional hal ini tidak terjadi, karena kebenaran yang dimiliki bersifat absolut dan final, oleh karena pengetahuan di konstruksi oleh orang lain.
8. Dalam pembelajaran CTL, siswa bertanggung jawab dalam memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing-masing; sedangkan dalam pembelajaran konvensional guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran.
9. Dalam pembelajaran CTL, pembelajaran bisa terjadi dimana saja dalam konteks dan setting yang berbeda sesuai dengan kebutuhan; sedangkan dalam pembelajaran konvensional pembelajaran hanya terjadi di dalam kelas.
10. Oleh karena tujuan yang ingin dicapai adalah seluruh aspek perkembangan siswa, maka dalam CTL keberhasilan pembelajaran diukur dengan berbagai cara, misalnya dengan evaluasi proses, hasil karya siswa, penampilan, rekaman, observasi, wawancara, dan lain sebagainya; sedangkan dalam pembelajaran konvensional keberhasilan hanya diukur dari tes.
C. Pola dan Tahapan Pembelajaran CTL di Sekolah
Untuk lebih memahami bagaimana mengaplikasikan CTL dalam proses pembelajaran di sekolah, maka terlebih dahulu penyusun menyam-paikan Pola pembelajaran CTL di sekolah.
Untuk mencapai kompetensi yang telah ditetapkan guru dapat melakukan langkah pembelajaran sebagai berikut :

1. Pendahuluan
a. Guru menjelaskan kompetensi yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.
b. Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL misalnya :
1) Peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah peserta didik;
2) Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi, misalnya kelompok 1 dan 2 melakukan observasi ke obyek A, sedangkan 3 dan 4 melakukan observasi ke obyek B, dan seterusnya.
3) Melalui observasi peserta didik ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan dalam kegiatan observasi tersebut.
c. Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap peserta didik.
2. Inti
Lokasi pembelajaran : Di lapangan (Lokasi Obyek Pengamatan )
a. Peserta didik melakukan observasi ke lokasi atau obyek pengamatan sesuai dengan pembagian kelompok.
b. Peserta didik mencatat hal-hal yang mereka temukan di lokasi atau obyek pengamatan sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya ( untuk peserta didik pada tingkatan bawah dapat dibantu dalam menyiapkan alat observasi )
Lokasi pembelajaran : Di dalam Kelas
a. Peserta didik mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
b. Peserta didik melaporkan hasil diskusi
c. Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain
3. Penutup
a. Dengan bantuan guru peserta didik menyimpulkan hasil observasi.
b. Guru menugaskan peserta didik untuk membuat tulisan atau rangkuman mengenai hasil observasi mereka.
D. Aplikasi CTL Pada Mata Pelajaran IPS
Pada makalah ini penyusun mencoba menjelaskan juga tentang contoh aplikasi CTL pada mata pelajaran IPS untuk tingkat pendidikan SD kelas IV semester 2 dan tingkat pendidikan SMP/MTs kelas VII semester 1 sebagai berikut :
1. Kelas IV , semester 1
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
2. Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di lingkungan kabupaten/kota dan provinsi
2.1. Mengenal aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan sumber daya alam dan potensi di daerahnya.
2.2. Mengenal pentingnya koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat
2.3. Mengenal perkembangan teknologi produksi, komunikasi, dan transportasi serta pengalaman menggunakannya.
2.4. Mengenal permasalahan sosial di daerahnya
Contoh langkah pembelajarannya adalah :
a. Pendahuluan
1) Guru menjelaskan standar kompetensi yang harus dicapai yaitu Mengenal sumber daya alam, kegiatan ekonomi, dan kemajuan teknologi di lingkungan kab/kota dam prov. dan manfaat mempelajari dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.
2) Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL misalnya :
a) Peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah peserta didik; misalnya siswa 36 dibagi dalam 6 kelompok setiap kelompok terdiri dari 6 orang.
b) Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi, misalnya kelompok 1 dan 2 melakukan observasi ke obyek aktivitas ekonomi di sekitar sekolah, sedangkan 3 dan 4 melakukan observasi ke obyek sumber daya alam dan potensi ekonomi di sekitar sekolah, kelompok 5 dan 6 melakukan observasi ke obyek koperasi di sekitar sekolah ( KUD, Koperasi Pegawai, atau Koperasi Sekolah )
c) Melalui observasi peserta didik ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan dalam kegiatan observasi yang telah ditentukan dengan mengisikannya pada format panduan yang telah disediakan guru.
3) Guru menyediakan /memberikan format panduan pengamatan sesuai dengan materi pengamatan kelompok siswa.
4) Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas dan kegiatan observasi yang harus dikerjakan oleh setiap peserta didik di lingkungan obyek pengamatan tersebut.
b. Inti
Kegiatan di Lokasi (Obyek Pengamatan )
1) Peserta didik melakukan observasi ke lokasi atau obyek pengamatan sesuai dengan pembagian kelompok.
2) Peserta didik mencatat hal-hal yang mereka temukan di lokasi atau obyek pengamatan sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya ( untuk peserta didik pada tingkatan bawah dapat dibantu dalam menyiapkan alat observasi )
3) Guru mengamati kinerja masing-masing kelompok dan membimbing apabila ada kelompok yang mengalami kesulitan.
4) Guru membimbing siswa kembali ke kelas dengan tertib sesuai waktu yang ditentukan.
Kegiatan di dalam Kelas ( setelah pengamatan selesai dilakukan )
1) Peserta didik mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan kelompoknya masing-masing (dikusi kelompok).
2) Guru memimpin pembukaan diskusi kelas dan menyampaikan peraturan dan tata tertib diskusi agar kegiatan berjalan dengan lancar dan tertib.
3) Guru mengatur jadwal waktu dan pembagian kelompok yang melaksanakan tugas presentasi hasil pengamatan.
4) Peserta didik melaporkan hasil diskusi di depan kelas
5) Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain
c. Penutup
1) Dengan bantuan guru peserta didik menyimpulkan hasil observasi.
2) Guru menugaskan peserta didik untuk membuat tulisan atau rangkuman mengenai hasil observasi mereka.
2. Kelas VII , semester 1
Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
3. Memahami usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan
3.1. Mendeskripsikan manusia sebagai makhluk sosial dan ekonomi yang bermoral dalam memenuhi kebutuhan.
3.2. Mengidentifikasi tindakan ekonomi berdasarkan motif dan prinsip ekonomi dalam berbagai kegiatan sehari-hari
a. Pendahuluan
1) Guru menjelaskan kompetensi “Memahami usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan” yang harus dicapai serta manfaat dari proses pembelajaran dan pentingnya materi pelajaran yang akan dipelajari.
2) Guru menjelaskan pengertian manusia sebagai makhlug sosial (homo socius) dan makhlug ekonomi ( berusaha mencukupi kebutuhannya)
3) Guru menjelaskan prosedur pembelajaran CTL misalnya :
a) Peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jumlah peserta didik;
b) Tiap kelompok ditugaskan untuk melakukan observasi di lingkungan sekitar sekolah, misalnya kelompok 1 dan 2 melakukan observasi tentang manusia sebagai makhluk sosial, sedangkan 3 dan 4 melakukan observasi tentang manusia sebagai makhlug ekonomi, kelompok 5 dan 6 mengobservai tentang motif ekonomi manusia.
c) Melalui observasi peserta didik ditugaskan untuk mencatat berbagai hal yang ditemukan dalam kegiatan observasi tersebut.
4) Guru melakukan tanya jawab sekitar tugas yang harus dikerjakan oleh setiap peserta didik.
5) Guru mengamati kinerja siswa dalam kegiatan observasi untuk memastikan keberlangsungan proses pembelajaran dengan baik.
b. Inti
Lokasi pembelajaran : Di lapangan (Lokasi Obyek Pengamatan )
1) Peserta didik melakukan observasi ke lokasi atau obyek pengamatan sesuai dengan pembagian kelompok tersebut.
2) Peserta didik mencatat hal-hal yang mereka temukan di lokasi atau obyek pengamatan sesuai dengan alat observasi yang telah mereka tentukan sebelumnya ( untuk peserta didik pada tingkatan bawah dapat dibantu dalam menyiapkan alat observasi )
3) Peserta dapat berkonsultasi dengan guru apabila mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugas observasi.
Lokasi pembelajaran : Di dalam Kelas
1) Peserta didik berkumpul dalam kelompok kecil dan mendiskusikan hasil temuan mereka sesuai dengan tugas masing-masing.
2) Peserta didik melaporkan hasil diskusi (kelompok besar) dalam kelas
3) Setiap kelompok menjawab setiap pertanyaan yang diajukan oleh kelompok yang lain
4) Apabila mengalami kesulitan guru dapat menjembatani dan membantu agar terjadi interaksi antar peserta didik secara baik dan diskusi berjalan sesuai jadwal yang ditentukan.
5) Guru menilai interaksi tanya jawab dan kerjasama antar kelompok untuk menilai secara kognisi maupun afeksi siswa dalam pembelajaran.
c. Penutup
1) Dengan bantuan guru peserta didik menyimpulkan hasil observasi.
2) Guru menugaskan peserta didik untuk membuat laporan hasil pengamatan dengan sistematika laporan yang baku.
Dengan 2 (dua) contoh tersebut kita mendapatkan pemahaman bahwa CTL adalah pembelajaran tepat dan dapat diterapkan pada pelajaran IPS baik di SD maupun SMP/MTs dengan didukung kreatifitas dan kemauan guru dalam meningkatkan mutu pembelajarannya. Karena CTL menekankan pembelajaran dengan anak mengalami langsung dalam kehidupan nyata di masyarakat. Kelas bukanlah tempat untuk mencatat atau menerima informasi dari guru, akan tetapi kelas digunakan untuk saling membelajarkan.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Dari penjabaran mengenai Contextual Teaching and Learning (CTL) di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Strategi Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan peserta didik secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkan dengan situasi nyata sehingga mendorong peserta didik untuk menerapkannya dalam kehidupan mereka.
2. CTL memandang bahwa belajar bukan menghafal, akan tetapi proses berpengalaman dalam kehidupan nyata.
3. Kelas dalam pembelajaran CTL bukan sebagai tempat untuk memperoleh informasi tetapi sebagai tempat untuk menguji data hasil temuan peserta didik di lapangan.
4. Ada beberapa perbedaan antara strategi pembelajaran CTL dan konvensional yang membuktikan bahwa CTL lebih efektif dan mampu menjadi alternatif pilihan strategi pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah.
5. Diperlukan pola dan langkah pembelajaran CTL di kelas agar strategi CTL dapat diterapkan secara efektif dan sesuai materi pelajaran yang telah ditetapkan dalam Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD).
6. Strategi pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) dapat diaplikasikan pada mata pelajaran IPS baik di tingkat pendidikan SD maupun SMP/MTs.
B. Saran
Dengan pemahaman tentang Contextual Teaching and Learning (CTL) ini diharapkan guru mata pelajaran IPS dapat menerapkan strategi ini dalam melaksanakan proses belajar mengajar (PBM) di sekolah dan dapat lebih meningkatkan kualitas maupun kuantitas penguasaan materi pelajaran IPS siswa di sekolah yang pada akhirnya mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia sebagaimana tujuan dan fungsi pendidikan nasional.

Minggu, 08 Juli 2012

ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN


ILMU PENGETAHUAN, TEKNOLOGI DAN KEMISKINAN
A. Sistem Ekonomi : Produksi, Distribusi, Konsumsi
1.   Produksi
v Pengertian Produksi
Kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa sesuai dengan kegunaannya.
Ø  Pembagian Bidang Produksi
§  Ekstraktif: Memungut langsung hasil alam seperti perikanan, laut dan pertambangan.
§  Agraris: Mengolah tanah untuk memelihara tumbuh-tumbuhan dan hewan seperti pertanian dan peternakan.
§  Industri: Kerajinan, perakitan, perbaikan seperti mengolah bahan mentah menjadi bahan setengah jadi atau   jadi.
§  Perdagangan: Semua kegiatan jual-beli, mencakup kegiatan membeli untuk kemudian dijualnya.
§  Jasa: Kegiatan penyediaan sarana jasa seperti transportasi, asuransi, perhotelan, pergudangan, perbankan, dsb.
Ø  Jenis produksi yang diusahakan manusia berkembang melalui beberapa tahap, yang dalam sejarah perekonomian dibagi menjadi 3:
§  Tahap Primer (Ekstraktif dan Agraris).
§  Tahap Sekunder (Industri dan Perdagangan).
§  Tahap Tersier (Jasa).
v Faktor Produksi
Ø  Faktor Alam, meliputi semua sumber yang disediakan oleh alam dengan tanpa usaha dan kerja manusia. Faktor ini harus ada dalam setiap proses produksi.
Sifat-sifat sumber alam:
·         Penyebarannya tidak merata.
·         Kemampuannya terbatas.
·         Bencana alam.
Ø  Faktor Tenaga Kerja, sangat menentukan dalam proses produksi. Menurut jenisnya, dibedakan menjadi Kerja Jasmani dan Kerja Pikiran. Menurut tingkatannya, dibedakan menjadi Teaga Kerja Terdidik, Terlatih, Tidak Terdidik dan Tidak Terlatih.
Ø  Faktor Modal, adalah barang yang digunakan menghasilkan lebih lanjut. Menurut fungsinya, dibedakan modal masyarakat dan modal perorangan. Menurut sifatnya, dibedakan menjadi modal tetap dan modal lancar.
Ø  Faktor Keahlian (Skill), keahlian mengatur produksi menjadi tanggung jawab pimpinan produksi atau pengusaha (pengambilan keputusan tentang tujuan perusahaan, lokasi, pengorganisasian, pemasaran hasil produksi).

2.   Distribusi
v Pengertian Distribusi, Pasar dan Pemasaran
Ø  Distribusi adalah semua kegiatan yang ditujukan untuk menyalurkan barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Jumlah barang dan atau jasa yang diterima konsumen sangat tergantung pada kebijaksanaan produsen.
Ø  Pemasaran adalah sama seperti distribusi, hanya saja jumlah barang dan atau jasa sangat tergantung pada konsumen sendiri, karena dipengaruhi oleh kebutuhan dan daya beli konsumen.
Ø  Pasar adalah tempat terjadinya jual beli.

v Jenis-Jenis Pasar
Menurut fisiknya, pasar dibagi menjadi:
Ø  Pasar Riil (nyata): pasar dimana penjual dan pembeli benar-benar bertemu.
Ø  Pasar Abstrak:pasar dimana antara penjual dan pembeli belum tentu bertemu.
Menurut waktu pasar itu diadakan, pasar dibagi menjadi:
Ø Pasar Harian: pasar yang menjual kebutuhan sehari-hari, orang dapat berbelanja setiap hari.
Ø  Pasar Mingguan:pasar yang diadakan sekali dalam satu minggu pada hari tertentu.
Ø  Pasar Tahunan:pasar yang diadakan sekali dalam setahun.
Menurut luasnya, pasar dibagi menjadi:
Ø  Pasar Dalam Negeri
Ø  Pasar Luar Negeri
Ø  Pasar Tahunan
v Permintaan dan Penawaran
Pemintaan adalah jumlah barang yang akan dibeli oleh pembeli pada suatu saat dengan harga tertentu. Hukum Permintaan yaitu jumlah barang yang diminta berbanding terbalik dengan harganya, semakin rendah harga suatu barang, maka semakin banyak jumlah yang diminta dan sebaliknya. Hukum permintaan berlaku dengan asumis “ceteris paribus”.
Penawaran adalah jumlah barang yang akan dijual oleh penjual pada suatu saat dengan harga tertentu. Hukum Penawaran yaitu jumlah barang yang ditawarkan berbanding lurus dengan harganya, makin rendah harga suatu barang, makin sedikit jumlah barang yang ditawarkan/dijual. Hukum penawaran hanya berlaku pada keadaan “ceteris paribus”.
v Fungsi-Fungsi Pemasaran
Adalah semua hal yang harus dilakukan oleh mata rantai pemasaran, sehingga barang-barang dapat disalurkan dari produsen dan konsumen. Fungsi yang harus  dilakukan adalah membeli, menjual, pengangkutan, menyimpan, mengadakan standardisasi, pembelanjaan, mengambil resiko, mengadakan advertensi/iklan.
v  Lembaga-Lembaga Pemasaran
Dibedakan menjadi 2 golongan:
·         Pedagang, baik yang besar dan kecil/eceran.
·         Agen

3.   Konsumsi
v  Pengertian Konsumsi
Konsumsi merupakan tindakan mengurangi atau menghabiskan kegunaan barang.








B. Ilmu pengetahuan dan daya kemampuan masyarakat
v Ilmu Pengetahuan
Ilmu pengetahuan (science) adalah pengetahuan (knoledge) yang  tersusun dengan sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran , pengetahuan selalu dapat diperiksa dan ditelaah (kontrol) dengan kritis oleh setiap orang lain yang ingin mengetahuinya.
Perumusan tersebut sebetulnya belum sempurna, tetapi  yang terpenting adalah perumusan tersebut mencakup beberapa unsur pokok. Unsur-unsur yang merupekan bagian yang tergabung dalam suatu kebulatan adalah:
·         Pengetahuan (knoledge)
·         Tersusun secara sistematis
·         Menggunakan pemikiran
·         Dapat dikontrol secara kritis oleh orang lain atau umum(objektif)
Yang dimaksud pengetahuan adalah kesan dalam pemikiran manusia sebagai hasil penggunaan panca inderanya yang berdeda sekali dengan kepercayaan, takhayul, dan penerangan - penerangan yang keliru. Sistem di dalam ilmu pengetahuan harus bersifat terbuka’ artinya dapat ditelaah kebenarannya oleh orang lain, harus pula dinamis, artinya sistem tersebut harus menggunakan cara-cara yang selalu disesuaikan dengan paraf perkembangan ilmu pengetahuan pada suatu saat.

Yang dimaksud dengan pemikiran adalah pemikiran dengan menggunakan otak. Dalam hal ini yang di maksud adalah: apabila kembali pada pengetahuan, ternyata pengetahuan tersebut didapatkan melalui kenyataan (fakta) dalam melihat dan mendengar sendiri. Dari sudut penerapannya ilmu pengetahuan dibedakan antara ilmu pengetahuan murni (purescience) dan ilmu pengetahuan yang di terapkan (applied science). Ilmu pengetahuan hendaknya dikembangkan manusia untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Para ahli falsafat seperti descates menyatakan bahwa ilmu pengetahuan merupakan serba budi, menurut Emanuel Kant ilmu pengetahuan merupakan persatuan antara budi dan pengalaman.
Dari pandangan diatas dapatlah dikemukakan bahwa ilmu pengetahuan selain tersusun secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran juga harus mengandung nilai etis atau moral. Ilmu pengetahuan dikatakan etis atau bermoral adalah harus mengandung nilai yang bermakna atau berarti.
Etika ilmu pengetahuan tetap merupakan satu-satunya senjata yang paling ampuh yang dapat memberikan jalan keluar bagi ilmu pengetahuan. Labih lanjut diakui oleh filsafat modern bahwa manusia  dalam pekerjaan ilmiahnya tidak hanya bekerja dengan akal budi saja, melaimkan dengan seluruh eksistensinya denan seluruh keadaan, dengan hatinya dan dengan panca inderanya. Sehingga manusai dalam mengambil keputusannya, membuat pilihan terlebih dahulumendapatkan pertimbangan dengan ajaran agama, nilai etika dan norma kesusilaan.
v Teknologi  dan Sejarah Perkembangaannya
Teknologi  lahir dari akal manusia untukmenguwasai  dan manfaat lingkungan sehingga kebutuhanyadapat terpenuhi.penerapan teknelogi itubertujuan untuk meningkatkan efesiensidan produktivitas Alvin toffermengenalis gejala gejala perubahan dan pemmbaruandi dunia ini akibat majunya ilmu pengetahuan dan teknekogi. Sejarah berkembangan teknelogi di bagi dalam tiga gelombang:gelombang pertama”(8000-1700 sm)gelombang ke dua”(1700-1970) gelombang ke tiga(1970-2000)
1). Gelombang pertama adalahgelombang pembaruan, yaitu manusia menemukan dan menerapkanteknelogi pertanian.ciri gelombang pertama adalah pengunaan”bateri hidup)atau bateri alamiah yaitu manusia yang memakaienergi yang tlah di simpanoleh alam untuk nyaberupa energi yang di otot otot binatang ,tumbuhan,atau lansung dari matahari,angin,air. Dapat dikatakan masyarakat gelombang pertama memasuki energi yang dapat dii perbarui
2). Masa” gelombang ke dua” adalah masarevolusi industri.gelombang yang ke dua ini dimulai dengan penemuan mesin uap pada tahun 1712 oleh new comen. Gelombang ke dua tersebut mengembangkan tegnelogi pada tingkat yang baru sekali. Iamenghasilkan mesin elektromekanis raksasa ban jalan, mesin mesin bergerak cepat. Menurut toffer ciri khas yang sangat menonjol dari peradapan golongan kedua adalah adnya garis pemisah yang jelas antara produsen dan konsumen.
Ø  Peradapan golongan kedua dapat berkembang cepat atas tiga dasar yaitu:
·         Kepercayaan bahwa manusia harus menaklukkan Tuhan.
·         Kepercayaan bahwa manusia tidak hanya menguasai alam, tetapi manusia adalah hasil dari suatu proses evolusi(teori darwin).
·         Kepercayaan bahwa sejsrah perkembangan manusia akan selalu ke arah kemajuan.
Ø  Peradaban golongan kedua menurut toffler akan menciut dan akan digantikan oleh peradaban golongan ketiga terutama disebabkan oleh hal-hal seperti berikut:
·         Perusahaan  alam tidak dapat lebihparah lagi  daripada apa   yang telah terjadi.
·         Cadangan energi yang tidak dapat diperbaharui sudah terlihat batas-batasnya beserta batas     enargi yang tidak dapat secara semena-mena diterapkan hanya oleh negara industri.
·         Dengan berakhirnya negara zaman kolonialisme subsidi tersembuyi dalam harga bahan-bahan baku industri juga ikut berakhir.
v Masalah teknologi maju negara berkembang
Pada era perkembangan sekarang ini, masyarakat Indonesia sudah terlibat dalam sentuhan teknologi maju dan bahkan telah sampai ke desa-desa. Perlu diketahui bahwa teknologi maju berkembang sesuai dengan keadaan dan lingkungan khas di negara-negara maju, yang dalam hal tersebut amat berdeda dengan keadaan dan lingkungan negara berkembang namun kurang diketahui perbedaan apa yang menyebabkan kesulitan dalam pengalihan teknologi maju di negara-negara berkembang. Kesulitan yang timbul dalam pengalihan teknologi maju ke berkembang di sebabkan oleh karena teknologi majutersebut dikemgangkan  di negara maju yang mampu untuk menunjang investasi perkapita yang tinggi.
v Perkembangan  Ilmu Pengetahuan dan teknologi dalam kaitannya dengan kemiskinan
Dalam hasil perencanaan satu dami satu, ketiga hal (ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan) itu kaitan stukturnya lebih jelas. Dari ketiga hal ternyata ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan saudara kembar yaaaaang sulit dipisahkan dalam peranannya untuk memenuhi kehidupan insani. Ilmu pengetahuan digunakan untuk mengetahui “apa” dan untuk mengetahui “bagaimana”. Teknologi adalah penerapan ilmu pengetahuan, sementara teknologi sendiri mengandung ilmu pengetahuan dalamnya.
Perubahan teknologi yang cepat mengakibatkan kemiskinan karana mengakibatkan terjadinyaperubahan sosial yang fundamental. Sebab kemiskinan diantaranya disebabkan oleh stuktur ekonomi, dalam hal ini pola relasi aantara manusia dengan sumber kemakmuran, hasil prodksi dan mekanisme pasar. Kemiskinan sebagai akibat pola relasi segala bidang sosial, kultur dan bersama-sama bidang ekonomi, kesemuanya merupakansubsistem atau substukturdari stuktur dan sistem teknologi.
C. Teknologi dan Kemiskinan
v Penertian teknologi
Menurut Walter Buckingham yang dimaksud dengan teknologi adalah ilmu pengetahuan yang diterapkan kedalam seni  industri  serta oleh karenanya mencakup alat-alat yang memungkinkan terlaksananya  evesiensi tenaga kerja menurut keragaman kemampuan.
v  Macam-macam teknologi
Ada tiga macam teknologi yang sering di kemukakan para ahli, yaitu:
Ø  Teknologi Modern
Jenis teknologi modern ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
ü  Padat modal
ü  Mekanisme elektris
ü  Meggunakan bahan impor
ü  Berdadsarkan penelitian mutakhir dan lain-lain
Ø  Teknologi Madya
Jenis teknologi madya ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
ü  Padat karya
ü  Dapat dikerjakan oleh keterampilan setempat
ü  Bedasarkan suatu penelitian
Ø  Teknologi Tradisional
Teknologi ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
ü  Bardsifat padat karya (banyak menyarap tenaga kerja)
ü  Mengunakan keterampilan setempat
ü  Menggunakan alat setempat
ü  Mennggunakan bahan setempat
ü  Berdasarkan kebiasaan atau kebiasaan
v Pengertian Kemiskinan
Istilah kemiskinan sebenarnya bukan merupakan suatu hal yang asing dalam kehidupan kita.kemiskinan yang dimaksud disini adalah kemiskinan ditinjau dari segi material(ekonomi). Atau dengan istilah lain kemiskinan itu merupakan ketidak mampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok,sehingga mengalami keresahan,kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langkah hidupnya.

Ø  Ada beberapa faktor yang menyebabkan timbulnya kemiskinan,yaitu:
ü  Pendidikan yang terlampau rendah
ü  Malas bekerja
ü  keterbatasan sumber  alam
ü  Terbatasnya lapangan kerja
ü  Keterbatasaan modal
ü  Beban keluarga.
D.  Kaitan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Kemiskinan
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan dua hal yang tak terpisahkan dalam peranannya untuk memenuhi kebutuhan insani. Ilmu pengetahuan digunakan untuk mengetahui “apa” sedangkan teknologi mengetahui “bagaimana”. Ilmu pengetahuan sebagai suatu badan pengetahuan sedangkan teknologi sebagai seni yang berhubungan dengan proses produksi, berkaitan dalam suatu sistem yang saling berinteraksi. Teknologi merupakan penerapan ilmu pengetahuan, sementara teknologi mengandung ilmu pengetahuan di dalamnya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi dalam penerapannya, keduanya menghasilkan suatu kehidupan di dunia (satu dunia), yang diantaranya membawa malapetaka yang belum pernah dibayangkan. Oleh karena itu, ketika manusia sudah mampu membedakan ilmu pengetahuan (kebenaran) dengan etika (kebaikan), maka kita tidak dapat netral dan bersikap netral terhadap penyelidikan ilmiah. Sehingga dalam penerapan atau mengambil keputusan terhadap sikap ilmiah dan teknologi, terlebih dahulu mendapat pertimbangan moral dan ajaran agama.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian-bagian yang dapat dibeda-bedakan, tetapi tidak dapat dipisah-pisahkan dari suatu sistem yang berinteraksi dengan sistem-sistem lain dalam kerangka nasional seperti kemiskinan.
Dalam hal kemiskinan struktural, ternyata adalah buatan manusia terhadap manusia lainnya yang timbul dari akibat dan dari struktur politik, ekonomi, teknologi dan sosial buatan manusia pula. Perubahan teknologi yang cepat mengakibatkan kemiskinan, karena mengakibatkan terjadinya perubahan sosial yang fundamental. Sebab kemiskinan diantaranya disebabkan oleh struktur ekonomi, dalam hal ini pola relasi antara manusia dengan sumber kemakmuran, hasil produksi dan mekanisme pasar. Kesemuanya merupakan sub sistem atau sub struktur dari sistem kemasyarakatan. Termasuk di dalamnya ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kami gambarkan sebuah contoh, rata-rata orang yang hidup di bawah garis kemiskinan belum dapat membaca maupun menulis. sedangkan salah satu cara memberantas kemiskinan adalah dengan ilmu pengetahuan. Dengan dapat membaca dan menulis, seorang pemulung sampah bisa berkesempatan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan menghasilkan banyak uang. Dengan ilmu pengetahuan, dapat merubah seorang pengamen untuk berpikir dan memulai membuka suatu usaha/wiraswasta.
E. Kesimpulan
Ilmu pengetahuan, teknologi dan kemiskinan adalah sesuatu yang bertentangan. Teknologi diciptakan oleh manusia demi kesejahteraan umat manusia dan untuk memenuhi kebutuhan manusia dengan arti menciptakan, mencari kesenangan manusia, melindungi dari malapetaka, kelaparan, melindungi dari bahaya kekejaman alam serta memenuhi kebutuhan pokok manusia.Ilmu pengetahuan, teknologi serta kemiskinan memiliki kaitan struktur yang jelas, sebab bagi siapa saja yang dapat menguasai IPTEK maka ia akan berkembang mengikuti era globalisasi yang sudah modern ini. Dan bagi siapa saja yang tidak menguasai IPTEK maka ia akan tertinggal jauh oleh pesatnya perkembangan teknologi di zaman ini.Bila di zaman yang modern ini masih ada masyarakat yang tertinggal dan tidak menguasai IPTEK maka mungkin saja masyarakat masih terpuruk dalam kemiskinan karena mereka masih menggunakan cara lama yang sudah tertinggal dan tidak efektif dan efisien lagi dizaman ini.

Senin, 04 Juni 2012

PERANAN PEMUDA DALAM MASYARAKAT

PERANAN PEMUDA DALAM MASYARAKAT

WILLIAM MARSHAL 28110517 1KB06



Pemuda atau generasi muda merupakan konsep-konsep yang selalu dikaitkan dengan masalah nilai. Hal ini merupakan pengertian idiologis dan kultural.



Di dalam masyarakat pemuda merupakan satu identitas yang potensial sebagai penerus cita-cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya karena pemuda sebagai harapan bangsa dapat diartikan bahwa siapa yang menguasai pemuda akan menguasai masa depan.

Ada beberapa kedudukan pemuda dalam pertanggungjawabannya atas tatanan masyarakat, antara lain:
a. Kemurnian idealismenya
b. Keberanian dan keterbukaannya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan-gagasan yang baru
c. Semangat pengabdiannya
d. Spontanitas dan dinamikanya
e. Inovasi dan kreatifitasnya
f. Keinginan untuk segera mewujudkan gagasan-gagasan baru
g. Keteguhan janjinya dan keinginan untuk menampilkan sikap dan kepribadiannya yang mandiri
h. Masih langkanya pengalaman-pengalaman yang dapat merelevansikan pendapat, sikap dan tindakannya dengan kenyataan yang ada.

PEMUDA dikaitkan sebagai generasi penerus sebuah bangsa, kader bangsa, kader masyarakat dan kader keluarga. Pemuda selalu diidentikan dengan perubahan, betapa tidak peran pemuda dalam membangun bangsa ini banyak sekali.

Contohnya adalah :

-Peran pemuda dalam menegakkan keadilan

-Peran pemuda yang menolak kekuasaan.

-Pemuda sebagai generasi penerus

-Pemuda sebagai generasi pengganti

-Pemuda sebagai generasi pembaharu


Masyarakat membutuhkan peran sertapemuda untuk kemajuan bersama. Pemuda adalah tulang punggung masyarakat. Generasi tua memilki keterbatasan untuk memajukan bangsa. Generasi muda harus mengambil peranan yang menentukan dalam hal ini. Dengan semangat menyala-nyala dan tekad yang membaja serta visi dan kemauan untuk menerima perubahan yang dinamis pemuda menjadi motor bagi pembangunan masyarakat.

Sejarah telah mencatat kiprah pemuda-pemuda yang tak kenal waktu yang selalu berjuang dengan penuh semangat biarpun jiwa raga menjadi taruhannya. Indonesia merdeka berkat pemuda-pemuda Indonesia yang berjuang seperti Ir. Sukarno, Moh. Hatta, Sutan Syahrir, Bung Tomo dan lain-lain dengan penuh mengorbankan dirinya untuk bangsa dan Negara.

Dalam sebuah pidatonya, Sukarno pernah mengorbakan semangat juang Pemuda apa kata Sukarno “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kugoncangkan dunia”. Begitu besar peranan pemuda di mata Sukarno, jika ada sembilan pemuda lagi maka Indonesia menjadi negara Super Power.

Satu tumpah darah, satu bangsa dan satu bahasa merupakan sumpah pemuda yang di ikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Begitu kompaknya pemuda Indonesia pada waktu itu, dan apakah semangat pemuda sekarang sudah mulai redup, seolah dalam kacamata negara dan masyarakat seolah-olah atau kesannya pemuda sekarang malu untuk mewarisi semangat nasionalisime. Hal tersebut di pengaruhi oleh Globalisasi yang penuh dengan tren.

Sekarang Pemuda lebih banyak melakukan peranan sebagai kelompok politik dan sedikit sekali yang melakukan peranan sebagai kelompok sosial, sehingga kemandirian pemuda sangat sulit berkembang dalam mengisi pembangunan ini.

Peranan pemuda dalam sosialisi bermasyrakat sungguh menurun dratis, dulu bisanya setiap ada kegiatan masyarakat seperti kerja bakti, acara-acara keagamaan, adat istiadat biasanya yang berperan aktif dalam menyukseskan acara tersebut adalah pemuda sekitar. Pemuda sekarang lebih suka dengan kesenangan, selalu bermain-main dan bahkan ketua RT/RW nya saja dia tidak tahu.

Kini pemuda pemudi kita lebih suka peranan di dunia maya ketimbang dunia nyata. Lebih suka nge Facebook, lebih suka aktif di mailing list, lebih suka di forum ketimbang duduk mufakat untuk kemajuan RT, RW, Kecamatan, Provinsi bahkan di tingkat lebih tinggi adalah Negara.

Selaku Pemuda kita dituntut aktif dalam kegiatan-kegiatan masyarakat, sosialisasi dengan warga sekitar. Kehadiran pemuda sangat dinantikan untuk menyokong perubahan dan pembaharuan bagi masyarakat dan negara. Aksi reformasi disemua bidang adalah agenda pemuda kearah masyarakat madani. Reformasi tidak mungkin dilakukan oleh orang tua dan anak-anak.

Dengan demikian , dibutuhkan pembinaan yang intensif terutama pembinaan moral agar pemuda memiliki rasa tanggung jawab untuk membangun serta berjuang untuk kepentingan masyarakat, tidak hanya untuk kepentingan pribadinya.

SUMBER :

-http://sosbud.kompasiana.com/2010/02/23/peranan-pemuda-dalam-sosialisasi-bermasyarakat/

-http://alakaycisero.multiply.com/journal/item/3